1
Airmata ku mengalir lagi,
Sejak kesekian kali, sejak dari dulu lagi,
melihat dengan mata hati,
kaki-kaki mu berjalan tiada henti,
mengheret hati yang lara.
Airmata mu yang mengalir setiap detik tanpa henti,
bukan kerana anak mu mati di letup peluru yang turun seperti hujan besi,
tetapi kerana sudah tiada lagi rasa simpati dan kasih sayang,
di atas bumi yang telah di penuhi dengan darah,
merah menyala bagai api yang membara.
11
Mana rumah ku yang dulunya ada hilai tawa,
Anak kecil riang berlari menyanyikan lagu rindu,
Mana tanah ku yang dulu hijau meneduh pundak ku,
Mana bunga yang pernah ku ciumi harumnya,
Mana air dingin bisa ku teguk untuk hilang perit derita ku,
Bukankah telah engkau kuburkan semua itu,
Engkau rampas untuk tegakkan benteng batu yang panjang dan tinggi
hingga aku tak nampak lagi rupa mu yang asli
putih, hitam atau kelabu
semuanya telah jadi debu yang berterbangan mengaburkan pandangan ufuk ku.
111
Di sebalik mayat-mayat yang terkujur ini,
Aku sedang meniup hawa yang engkau sekarang pasti tidak rasa
panasnya membakar dingin malam mu,
Nanti engkau akan tahu bila airmata ku jadi batu
Memburu setiap saat hidup mu
Airmata ku ini ku tampung dalam lautan yang menggila
Membanjiri kota-kota mimpi mu, larut dalam kata-kata mu yang angkuh,
Hingga engkau tak mungkin bisa menghela udara
Pasir ini akan menembusi setiap salur darah mu bisa
Sehingga terpacakkan panji-panji cinta di jantung.
Sehingga airmata darah mu mengalir pula,
Sehingga kata-kata mu jadi nyanyi luka
Kaki mu tak bisa menginjak fikir ku,
Senyuman mu melutut di kaki ku dan airmata ku kering di kepala mu
Sehingga janji Allah tiba, tunggu tiba ku..
nukilan :
Rosmihayati Dato' Mohd. Khairuddin,
Bukit Katil, Melaka.
Malaysia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment